Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis
Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis

Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis

Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis

Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis
Norodom Sihanouk: Pemimpin Yang Dikhianati AS Dan Komunis

Norodom Sihanouk Telah Menjalani Kehidupan Yang Dipenuhi Kesulitan Serta Cobaan Sejak Menjadi Raja Muda Kamboja. Pangeran Kamboja ini mulai memimpin sejak usianya delapan belas tahun. Kepemimpinannya berlangsung di tengah gejolak politik dan perang yang melanda kawasan Indocina, menjadikannya tokoh sentral dalam sejarah Kamboja selama empat dekade.

Keluarga kerajaan Kamboja mengalami kehancuran parah akibat kekejaman rezim brutal Khmer Merah. Pada saat berada di Cote d’Azur, Prancis, sang Pangeran berbagi kisah kelamnya kepada orang-orang di sekitarnya. Beliau menceritakan pengalaman pahit, termasuk momen kehilangan yang tak terlupakan akibat kekejaman ideologi tersebut. Oleh karena itu, kehidupan Pangeran seringkali dilabeli sebagai penuh kontradiksi.

Pangeran yang memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh besar seperti de Gaulle, Zhou Enlai, Mao Zedong, dan Soekarno itu menyaksikan keruntuhan keluarganya sendiri. Norodom Sihanouk kehilangan lima anak dan empat belas cucu akibat tindakan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan di bawah kepemimpinan Pol Pot. Tragedi ini menjadi bukti nyata dampak kekejaman ideologi tersebut.

Pengalaman pahit ini diucapkannya di sebuah vila pinjaman di Mougins, Prancis Selatan, tiga belas tahun setelah melewati periode penawanan, kemitraan, dan menjadi tamu golongan komunis. Kisah hidupnya ini menggambarkan perjuangan seorang pemimpin yang harus bertahan di antara kekuatan-kekuatan global yang saling bertentangan.

Penderitaan Personal Akibat Rezim Brutal

Penderitaan Personal Akibat Rezim Brutal merupakan sisi kelam yang dialami oleh pemimpin Kamboja ini di masa senjanya. Dikenal sebagai keturunan langsung raja-raja Dewa Angkor, beliau kehilangan lima orang anak dan empat belas cucu di tangan kekejaman Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Hal ini menciptakan luka mendalam yang tidak akan pernah terlupakan olehnya.

Sosok yang pernah menjadi tawanan, kemudian mitra, dan akhirnya menjadi tamu golongan komunis itu berbagi kisahnya di sebuah vila pinjaman. Meskipun demikian, tempat tinggalnya di Mougins, Cote d’Azur, Prancis Selatan, tidaklah megah. Ia datang ke Prancis Selatan saat itu untuk menemui dokter pribadinya sebagai persiapan mengikuti Sidang Umum PBB di New York. Kehadirannya laksana seorang juara yang menua, giat berlatih agar bisa tampil kembali di panggung global.

Selama empat puluh tahun, namanya telah melekat erat dengan identitas Kamboja. Tahun-tahun 1970-an menjadi periode yang sangat getir baginya, penuh dengan ujian dan cobaan politik yang ekstrem. Faktanya, ia bukan hanya diserang oleh kaum komunis domestik, tetapi juga mengalami tekanan hebat dari Amerika Serikat. Wajahnya yang dulunya tampak halus dan aristokratis kini dibayangi oleh penderitaan yang berkepanjangan di usia senja. Ia merasa bahwa dirinya pernah menjadi pemimpin yang sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.

Ia mengeluhkan betapa sulitnya mengatur rakyatnya meskipun mereka menghormatinya, sambil mengelus sofa di ruang tamu vila tempatnya tinggal. Karpet baru di vila tersebut disediakan oleh pemerintah Prancis sebagai bentuk penghormatan. Secara keseluruhan, kehidupan pemimpin yang diangkat menjadi raja pada tahun 1941, saat usianya delapan belas tahun, menjadi simbol tragedi politik Asia Tenggara modern. Ia mengenang saat dirinya ditarik dari sebuah sekolah menengah di Saigon oleh pemerintah Prancis untuk dinobatkan sebagai raja.

Norodom Sihanouk: Strategi Netralitas Yang Gagal

Norodom Sihanouk: Strategi Netralitas Yang Gagal pada akhirnya menjadi bumerang dalam karir politiknya yang panjang. Beliau menerapkan prinsip netralitas ekstrem saat Perang Vietnam mulai memuncak di Indocina. Prinsip ini mengharuskannya condong ke kiri maupun ke kanan di dalam negeri, tergantung kebutuhan politik. Tindakan ini diambil karena ia meyakini Amerika Serikat pada akhirnya akan angkat kaki dari kawasan tersebut.

Keyakinannya saat itu adalah Vietnam akan bersatu menjadi negara komunis. Oleh karena itu, lebih baik berteman dengan mereka. Ia berharap Vietnam kelak akan berterima kasih kepada Kamboja. Menariknya, ia menekankan bahwa hubungannya tidak pernah dibangun atas dasar ideologi, melainkan pada apakah pihak tersebut menyukai Kamboja atau tidak. Bahkan ketika mengizinkan Vietnam Utara menggunakan pelabuhan dan tempat berlindung di Kamboja, ia tetap gencar menindak gerilyawan Khmer Merah.

Sikapnya untuk menentramkan Vietnam Utara, meskipun ia menghambat pergerakan Khmer Merah, menyebabkan kemarahan di kalangan tokoh bisnis dan militer sayap kanan Kamboja. Ironisnya, Pangeran Kamboja ini merupakan satu-satunya kepala negara non-komunis yang menghadiri pemakaman Ho Chi Minh pada September 1969. Sikap yang dianggap provokatif ini tidak dihargai oleh pemerintahannya sendiri, yang kala itu dipimpin oleh Lon Nol dan Sirik Matak.

Setelah salah satu masa perawatannya di Prancis, kudeta menggulingkannya pada 18 Maret 1970. Peristiwa ini terjadi ketika ia dalam perjalanan pulang menuju Beijing, dan menerima berita tersebut dari Perdana Menteri Rusia, Alexei Kosygin. Setahun sebelum kudeta, Amerika Serikat telah melancarkan pemboman rahasia di Kamboja dengan pesawat B-52, sebuah operasi yang dinamai sandi “Menu.” Pemboman ini menelan banyak korban rakyat sipil Kamboja. Pangeran Sihanouk dengan marah membantah tuduhan Henry Kissinger yang menyebutnya setuju dengan pemboman tersebut. Peristiwa penggulingan ini menandai babak baru yang getir dalam sejarah politik Norodom Sihanouk.

Perdebatan Soal Keterlibatan Amerika Serikat

Perdebatan Soal Keterlibatan Amerika Serikat dalam kudeta 1970 selalu menjadi poin kontroversial dalam biografi Pangeran Kamboja. Pihak Amerika Serikat melalui Henry Kissinger menampik tuduhan keterlibatan dalam penggulingan ini, menyatakan tidak mendukung dan tidak tahu-menahu sebelumnya. Meskipun demikian, Pangeran Sihanouk menuduh AS bertanggung jawab langsung atas penumbangannya.

Buku investigasi politik The Price of Power: Kissinger in the Nixon White House karya Seymour Hersh mengungkapkan fakta sebaliknya. Hersh menjelaskan keterlibatan AS dengan komplotan anti-Sihanouk. Pihak AS diduga membiayai dan mengendalikan pemberontakan Khmer Krom yang terlibat dalam penyerbuan kedutaan Vietnam Utara dan pembunuhan orang Vietnam di Kamboja. Selain itu, dokumen Dewan Keamanan Nasional memuat pesan yang mengindikasikan persetujuan, yaitu: “Biarkan saja Sihanouk ditumbangkan.” Posisi ini mendapat dukungan dari diplomat karier Prancis, Etienne Manac’h, yang menegaskan keterlibatan AS sebelum, selama, dan sesudah kudeta. Hal ini memperkuat narasi pengkhianatan yang dirasakan oleh Norodom Sihanouk.

Setelah digulingkan, Sihanouk diizinkan bermarkas di Beijing sebagai kepala negara dalam pengasingan, dengan perlakukan terhormat dari Tiongkok. Zhou Enlai memperlakukannya sebagai pemimpin nasional dan bahkan memberinya fasilitas mewah. Akan tetapi, Pangeran Sihanouk sebenarnya menjadi pemimpin boneka dari GRUNK (Royal Government of National Union of Kampuchea). Pengendalian nyata justru berada di tangan tokoh-tokoh muda Komunis seperti Pol Pot, Khieu Samphan, dan Ieng Sary, yang sebelumnya sempat berjuang melawan pengaruhnya di hutan-hutan Kamboja.

Sihanouk bahkan sempat menawarkan perundingan pada tahun 1972 kepada Nixon dan Kissinger melalui Zhou Enlai. Tawarannya adalah mengakhiri perang dan menjadikan Kamboja negara independen dan netral. Tawaran ini dianggap sebagai satu-satunya cara untuk membendung pengaruh komunisme secara menyeluruh. Sayangnya, Nixon menolak keras, menyatakan akan selalu mendukung Lon Nol. Penolakan ini diklaim oleh banyak pihak sebagai kesalahan fatal AS yang secara tidak langsung justru mendukung perkembangan komunisme radikal di Kamboja.

Merefleksikan Warisan Dan Nasib Kamboja

Mempelajari sejarah Indocina modern memerlukan pemahaman mendalam tentang tokoh-tokoh sentral seperti Pangeran Kamboja ini. Merefleksikan Warisan Dan Nasib Kamboja menyingkapkan kompleksitas seorang pemimpin yang berjuang keras di tengah kepentingan superpower global. Pangeran tersebut akhirnya dibebaskan oleh Khmer Merah dari tahanan rumah pada Januari 1979, beberapa jam sebelum Phnom Penh jatuh ke tangan pasukan Vietnam.

Setelah bebas, ia banyak menghabiskan waktu untuk menganalisis mengapa dirinya pernah bersekutu dengan pihak yang menghancurkan tanah airnya sendiri. Pangeran Kontradiksi ini mengakui bahwa rakyat Kamboja, yang ia sebut memiliki sifat “muka dua” seperti Janus, mudah terhasut oleh semangat ‘amok’ antara perang dan damai. Menurutnya, Buddhisme hanya berfungsi sebagai pemanis, sedangkan di bawahnya terdapat api neraka.

Pangeran ini bahkan menyebut dirinya lebih anti-komunis daripada Nixon dan Kissinger, namun terpaksa menjalin aliansi dengan Khmer Merah. Aliansi tersebut didasari oleh realitas politik bahwa Khmer Merah dianggap bermanfaat oleh pihak Barat untuk memukul Vietnam. Inilah salah satu ironi terbesar dalam karirnya. Walaupun Khmer Merah membantai jutaan rakyatnya, ia berpendapat bahwa Vietnam akan menghapus bangsa Kamboja sepenuhnya melalui kolonisasi jika tidak dilawan.

Meskipun kembali menjadi pemimpin koalisi, pasukannya hanya memiliki sedikit senjata, dan ia hidup dari belas kasihan sekutu lama, terutama Tiongkok. Sampai akhir hayatnya, ia tidak memiliki kekayaan pribadi, mencerminkan komitmennya terhadap idealisme Sosialis Buddha yang ia anut. Pada akhirnya, kehidupan penuh gejolak Pangeran ini menjadi pelajaran tentang dilema kepemimpinan di tengah konflik global yang brutal. Kisah hidupnya yang penuh lika-liku akan terus dikenang sebagai perjuangan yang dilakukan oleh Norodom Sihanouk.

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait