Bank Dunia Curhat: Ini Penyakit Yang Bikin Indonesia Susah Kaya

Bank Dunia Curhat: Ini Penyakit Yang Bikin Indonesia Susah Kaya

Bank Dunia Curhat: Ini Penyakit Yang Bikin Indonesia Susah Kaya Dan Sulit Berkembang Demi Kemajuan Negara. Indonesia hingga kini masih tercatat sebagai negara berpendapatan menengah di dunia. Status ini mencerminkan adanya kemajuan ekonomi yang tidak kecil. Tentunya mulai dari pertumbuhan PDB yang relatif stabil hingga perbaikan infrastruktur di berbagai daerah. Namun, menurut Bank Dunia (World Bank), capaian tersebut belum cukup kuat untuk mendorong Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah risiko terjebak dalam middle income trap. Dan menjadi sebuah kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat. Serta sulit menembus level kesejahteraan yang lebih tinggi. Dalam berbagai kajiannya, Bank Dunia menilai bahwa tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam. Tentunya dalam iklim usaha dan investasi, Indonesia akan sulit keluar dari jebakan tersebut. Masalahnya bukan semata soal pertumbuhan, melainkan kualitas pertumbuhan itu sendiri. Di sinilah sejumlah “penyakit” struktural mulai terungkap.

Produktivitas Perusahaan Besar Justru Mandek

Salah satu temuan paling krusial berasal dari Produktivitas Perusahaan Besar Justru Mandek. Hasilnya cukup mengejutkan. Ekosistem perusahaan besar di Tanah Air di nilai kurang dinamis dan kurang produktif di bandingkan negara lain dengan ukuran ekonomi serupa. Akan tetapi memiliki pendapatan per kapita yang lebih tinggi. David, perwakilan Bank Dunia, menyoroti fakta bahwa produktivitas perusahaan di Indonesia tidak meningkat seiring bertambahnya skala usaha. Bahkan, perusahaan yang lebih besar. Dan telah lama beroperasi justru cenderung menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih rendah. Padahal, secara teori, perusahaan besar seharusnya memiliki efisiensi, teknologi.

Serta dengan manajemen yang lebih baik. “Perusahaan yang lebih besar dan lebih tua di Indonesia justru cenderung kurang produktif. Padahal seharusnya mereka menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar David. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah mendasar dalam struktur industri nasional. Terlebihnya di mana skala besar tidak otomatis berbanding lurus dengan kinerja dan inovasi. Transisi dari ekonomi berbasis jumlah ke ekonomi berbasis kualitas pun menjadi tersendat. Akibatnya, pertumbuhan yang tercipta belum mampu mendorong lonjakan pendapatan secara signifikan.

Iklim Usaha Dan Persaingan Yang Belum Sehat

Lebih jauh, mereka menilai bahwa akar persoalan tidak hanya terletak pada regulasi yang rumit. Akan tetapi Iklim Usaha Dan Persaingan Yang Belum Sehat. Dalam praktiknya, tidak semua pelaku usaha memiliki peluang yang sama untuk tumbuh dan bersaing secara adil. Hambatan masuk pasar, perlindungan berlebihan terhadap pemain lama. Serta relasi bisnis yang kurang transparan membuat persaingan menjadi tidak sehat. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya dorongan inovasi. Perusahaan yang sudah mapan cenderung nyaman dalam zona aman.

Sementara pemain baru kesulitan berkembang. Di sisi lain, iklim investasi yang belum sepenuhnya kondusif juga menjadi penghambat. Investor membutuhkan kepastian hukum, regulasi yang konsisten, serta proses perizinan yang efisien. Tanpa itu semua, aliran investasi berkualitas akan sulit masuk. Tentunya pada investasi yang membawa teknologi dan pengetahuan baru. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka transformasi ekonomi akan berjalan lambat. Indonesia mungkin tetap tumbuh. Akan tetapi tidak cukup cepat untuk mengejar negara-negara yang telah lebih dulu naik kelas.

Dampak Luas Ke Sektor Keuangan Dan Industri

Masalah produktivitas dan persaingan usaha yang tidak sehat juga turut ber Dampak Luas Ke Sektor Keuangan Dan Industri. Mereka mencatat dampaknya terasa pada sektor keuangan, pasar jasa, hingga industri pengolahan. Sektor keuangan, misalnya, menjadi kurang optimal dalam menyalurkan pembiayaan ke usaha produktif. Karena risiko dan struktur pasar yang tidak efisien. Sementara itu, industri pengolahan yang seharusnya menjadi tulang punggung nilai tambah justru bergerak lambat.

Tanpa inovasi dan efisiensi, sektor ini sulit bersaing di pasar global. Alhasil, ekspor bernilai tinggi belum tumbuh maksimal. Dan penciptaan lapangan kerja berkualitas masih terbatas. Mereka menegaskan bahwa jalan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah membutuhkan reformasi menyeluruh. Perbaikan iklim usaha, penguatan persaingan sehat. Serta peningkatan produktivitas perusahaan harus berjalan beriringan. Tanpa langkah berani dan konsisten, “penyakit” struktural ini akan terus menghambat Indonesia. Tentunya untuk benar-benar menjadi negara maju dan sejahtera yang di beberkan oleh Bank Dunia.