Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi Di Kenal Sebagai Pegiat Budaya Dan Sosial!

Dedi Mulyadi Merupakan Adalah Anak Bungsu Dari Sembilan Bersaudara Miliki Kisah Perjalanan Hiudp Yang Berliku Yuk Kita Bahas Bersama. Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, merupakan pensiunan TNI, sementara ibunya, Karsiti, adalah aktivis Palang Merah Indonesia. Dedi menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Subang dan meraih gelar Sarjana Hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta, pada tahun 1999.

Karier Politik

Karier politik Dedi dimulai pada tahun 1999 sebagai anggota DPRD Purwakarta dari Partai Golkar. Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta (2003–2008) dan Bupati Purwakarta selama dua periode (2008–2018). Pada tahun 2019, Dedi terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat VII dan duduk di Komisi VI hingga 2023.

Gubernur Jawa Barat

Pada Pilgub Jabar 2024, Dedi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat bersama Erwan Setiawan sebagai Wakil Gubernur. Mereka memenangkan pemilihan dengan perolehan suara tertinggi sepanjang sejarah Pemilu Gubernur Jawa Barat, yaitu 62,22% atau 14.130.192 suara. Dedi-Erwan resmi dilantik pada 20 Februari 2025.

Kehidupan Pribadi

Dedi menikah dengan Anne Ratna Mustika, mantan Mojang Purwakarta dan keponakan Bupati Purwakarta periode 1993–2003. Mereka dikaruniai tiga anak: Maulana Akbar Ahmad Habibie, Yudistira Manunggaling Rahmaning Hurip, dan Hyang Sukma Ayu. Pasangan ini bercerai pada 22 Februari 2023 Dedi Mulyadi.

Aktivisme dan Media Sosial

Dedi dikenal sebagai pegiat budaya dan sosial, sering mengenakan pakaian serta ikat kepala khas Sunda. Ia aktif di media sosial, terutama YouTube dengan kanal “Kang Dedi Mulyadi Channel”, yang digunakan untuk menyuarakan isu-isu sosial dan budaya Dedi Mulyadi.

Dikenal Sebagai Sosok Pemimpin Yang Sangat Dekat Dengan Masyarakat

Dedi Mulyadi Dikenal Sebagai Sosok Pemimpin Yang Sangat Dekat Dengan Masyarakat. Gaya kepemimpinannya yang merakyat membuatnya berbeda dari banyak tokoh politik lainnya. Ia kerap turun langsung ke lapangan, menyapa warga, mendengarkan keluhan mereka, dan bahkan membantu secara konkret tanpa protokoler yang berlebihan. Hal ini tercermin dari berbagai aktivitasnya yang terekam dalam kanal YouTube pribadinya, “Kang Dedi Mulyadi Channel”, di mana ia mendokumentasikan interaksinya dengan masyarakat dari berbagai lapisan.

Salah satu ciri khas Dedi dalam membangun hubungan dengan rakyat adalah empati yang tinggi terhadap warga kecil. Ia tidak segan membantu pedagang kaki lima, membelikan barang kebutuhan untuk orang tua yang hidup sendiri, hingga membiayai sekolah anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia hadir tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai teman dan pendengar yang tulus. Sikap ini membuatnya dicintai, terutama oleh masyarakat pedesaan dan kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Selain itu, Dedi juga memiliki pendekatan budaya yang kuat dalam menjalin kedekatan dengan masyarakat Sunda. Ia sering mengenakan pakaian adat, menggunakan bahasa Sunda dalam pidato, serta memperkenalkan kembali nilai-nilai tradisional yang mulai terlupakan. Melalui simbol-simbol budaya tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan akar budaya lokal.

Gaya komunikasi Dedi yang lugas, bersahaja, dan penuh humor menjadikannya mudah didekati oleh siapa saja. Ia tidak membangun jarak antara dirinya dengan masyarakat. Bahkan, ia sering dianggap sebagai “Bapak” atau “Kang” oleh warga, bukan sekadar pejabat. Julukan tersebut muncul karena masyarakat merasa nyaman dan aman saat berinteraksi dengannya.

Dedi juga memanfaatkan media sosial secara positif untuk menyuarakan suara rakyat. Ia mengangkat isu-isu sosial seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan secara langsung dan apa adanya.

Kesuksesan Dedi Mulyadi Tidak Datang Secara Instan, Melainkan Melalui Proses Panjang

Kesuksesan Dedi Mulyadi Tidak Datang Secara Instan, Melainkan Melalui Proses Panjang dan konsisten dalam melayani masyarakat. Lahir dari keluarga sederhana di Subang, Jawa Barat, Dedi tumbuh sebagai sosok yang memahami langsung kehidupan rakyat kecil. Latar belakang ini membentuk karakter kepemimpinan yang kuat, humanis, dan berpihak pada masyarakat bawah.

Kesuksesan pertamanya terlihat saat ia menjadi anggota DPRD Purwakarta pada usia muda. Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Bupati Purwakarta (2003–2008), dan menjabat sebagai Bupati selama dua periode (2008–2018). Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Purwakarta mengalami banyak perubahan, terutama dalam bidang infrastruktur, pendidikan, dan pelestarian budaya lokal. Ia dikenal inovatif dalam menata ruang kota dengan ornamen-ornamen khas budaya Sunda serta membuat kebijakan yang mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Kesuksesan Dedi tidak hanya terbatas pada level daerah. Pada Pemilu 2019, ia melangkah ke kancah nasional sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar. Di DPR, Dedi aktif dalam Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, dan investasi. Ia tetap membawa gaya khasnya yang membumi dan kerap turun langsung ke masyarakat, menjadikannya salah satu anggota dewan yang paling aktif dan populer di media sosial.

Puncak kesuksesannya tercapai saat ia terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2024. Bersama wakilnya, Erwan Setiawan, mereka meraih lebih dari 14 juta suara, sebuah rekor dalam sejarah pemilihan gubernur di Indonesia. Kemenangan ini menunjukkan betapa kuatnya dukungan rakyat terhadap sosok Dedi yang dikenal peduli, jujur, dan konsisten membela rakyat.

Selain di bidang politik, kesuksesan Dedi juga terlihat dari perannya sebagai figur publik dan edukator sosial melalui media digital. Kanal YouTube-nya menjadi salah satu saluran paling berpengaruh dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan, budaya, dan keadilan sosial.

Saat Menjabat Bupati Purwakarta, Dedi Menggagas Penataan Kota Yang Kental Dengan Unsur Budaya Sunda

Selama kariernya sebagai kepala daerah dan kini sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dikenal dengan berbagai program kerja yang unik, progresif, dan kadang kontroversial. Beberapa di antaranya menuai pujian luas, sementara sebagian lainnya memicu perdebatan publik karena menyentuh isu-isu budaya, keagamaan, dan sosial secara langsung.

  1. Penataan Kota Bernuansa Budaya Sunda

Saat Menjabat Bupati Purwakarta, Dedi Menggagas Penataan Kota Yang Kental Dengan Unsur Budaya Sunda. Ia membangun patung-patung tokoh pewayangan seperti Gatotkaca dan Arjuna di ruang-ruang publik. Ia juga mengganti nama jalan dengan istilah dalam bahasa Sunda dan mewajibkan penggunaan ikat kepala tradisional di hari-hari tertentu.

Program ini menuai banyak pujian karena berhasil menghidupkan kembali identitas lokal. Namun, ada pula yang mengkritik penggunaan anggaran besar untuk pembangunan patung, serta menilai ada potensi konflik dengan nilai-nilai keagamaan tertentu. Meski demikian, Dedi tetap konsisten menyampaikan bahwa pelestarian budaya adalah bagian dari memperkuat karakter bangsa.

  1. Salam “Sampurasun”

Salah satu program simbolis yang paling banyak dibicarakan adalah penggantian salam formal dalam acara pemerintahan dari “Assalamualaikum” menjadi “Sampurasun”. Tujuannya untuk mengangkat kembali tradisi tutur masyarakat Sunda. Namun, hal ini sempat menimbulkan kontroversi di kalangan tokoh agama yang merasa nilai-nilai Islam terpinggirkan. Meski akhirnya dikembalikan ke format yang lebih netral, perdebatan ini menempatkan Dedi dalam sorotan nasional. Program ini mendapat respons positif dari masyarakat. Dedi secara rutin menginap di desa-desa, berkantor langsung di tempat terpencil, dan menyerap aspirasi warga tanpa perantara Dedi Mulyadi.